Skip to main content

Bath the Calm City

Seperti kata-kata populer dari Jane Austen: "Oh! Siapa yang pernah lelah dengan Bath?" atau quotes aslinya "Oh! Who can be ever tired of Bath?". Begitu juga dengan saya. Selama tinggal di UK 3 bulan ini, saya sudah 2 kali ke Bath. Pertama, saya ikut guided student tour menuju ke Stonehenge dan Bath. Saat itu saya hanya punya waktu kurang dari 3 jam di Bath dan saya merasa sangat kurang, karena saya jatuh cinta dengan kota itu. Akhirnya saya putuskan kembali ke Bath untuk kedua kalinya. Kali itu saya menggunakan beberapa hari dari reading week (biasanya di week 6, yaitu 1 minggu full tidak ada kelas, student diharapkan belajar mandiri).
The Roman Bath
 Di kali kedua, saya habiskan 3 hari disana dan saya menginap di tempat salah satu adik kelas favorit saya waktu SMA yang sedang melanjutkan master di University of Bath. Lalu, kenapa sih bisa jatuh cinta sama kota Bath? Kota Bath ini letaknya tidak jauh dari London. Kira-kira 2,5 jam apabila naik bus dari Victoria Coach Station, London. Kota Bath ini spesial, karena banyak peninggalan jaman romawinya. Salah satunya Roman Bath. Bangunan ini didirikan sebagai tempat mandi orang-orang romawi. Ada kolam besar dan juga ruang-ruang berdinding batu untuk mandi dan berendam. Sekarang ini, Roman Bath menjadi salah satu lokasi wisata paling populer. Lumayan, tiket masuk untuk student saja 13.75 pounds.

The Roman Bath
Berfoto dengan Slave dan Prajurit jaman Romawi
Di dalam Roman Bath, dijelaskan fungsi dari setiap tempat disana. Kolamnya pun masi ada airnya yang berwarna hijau bening. Saya waktu iseng coba pegang airnya buat cuci tangan, lalu disamperin sama penjaganya, dibilang airnya beracun jadi jangan dipegang. Saya langsung parno. Tapi memang sepertinya beracun karena mengandung sulfur. Dan memang itu sumber air panas. Selain Roman Bath, objek wisata lain yang tidak kalah menarik seperti Bath Abbey (gereja besar Anglikan yang katanya dibawah lantainya banyak terletak makam orang-orang kuno), The Circus dan Royal Crescent yang merupakan pemukiman elite yang mahalnya pake banget, Pulteney Bridge, Alexandra Park yang letaknya tinggi, jadi bisa melihat kota Bath dari ketinggian dan sangat indah. Tapi sayangnya saya ga sempat kesana sih karena pas disana lagi dingin banget jadi kayaknya ga sanggup jalan ke bukit gitu. Terus ada Jane Austen Center. Jadi kayak rumah mungil gitu, isinya perjalanan Jane Austen selama hidupnya, mulai dari keluarganya, karyanya, sampe kostum pada jaman itu dan suasana jaman itu (ada cafe mungil ala UK jadul).
Bath Abbey
Royal Crescent


Pulteney Bridge
The Circus
FYI, Jane Austen itu penulis perempuan abad 18 yang suka di relasikan dengan awal mula feminisme. Sebetulnya tidak tahu persis apakah ybs seorang feminis atau bukan. Tapi memang, sebagian besar novelnya berisi kritik bahwa pada jaman itu betapa status perempuan itu ditentukan oleh seberapa hebat suaminya. Jadi kalau perempuan tidak punya suami yang kaya atau hebat maka dia kurang sukses, apalagi apabila perempuan tidak menikah. Betapa kultur UK pada saat itu menyudutkan posisi perempuan. Dan Jane mencoba menggambarkan peristiwa itu melalui novel-novelnya. Jane pun dikabarkan tidak menikah selama hidupnya, dan dia juga meninggal di usia yang cukup muda. Dikabarkan dia sempat menerima lamaran dari pria tapi akhirnya dia tolak. Saya pribadi terkesan dengan Jane karena dia berani menuliskan kritik dengan cara yang halus dan dapat dinikmati oleh orang banyak sampai lintas jaman. Jane merupakan perempuan yang memiliki pikiran independen di jamannya. Terus saya juga setuju sama Jane kalau Bath itu indah dan inspirasional sekali!
Jane Austen Center
Tried Costume Photoshoot @ Jane Austen Center
 Lanjut, di Bath itu beda banget sama London. Disana tenang banget, tidak seperti London yang sibuk dan hiruk pikuk. Ya jelas lah, Bath memang bukan kota metropolitan. Bahkan di Bath tidak ada tube. Kebanyakan orang Bath naik bus. Bahkan sampai supir bus bisa hafal sama penumpangnya dan orang yang lewat di jalan bisa disapa sama supir bus! Di London mana ada yang begitu. Yang ada malah supir bus berantem mulut sama pengemudi sepeda yang seliweran. Bath bisa dibilang kota pensiunan juga sih. Kalo di Indonesia mungkin seperti Malang? Jadi banyak penduduknya sudah opa-oma. Saya juga soalnya suka banget Malang, hahaha (yailah, kampung bapak gw gitu loh). Dan toko-toko disana paling malem buka sampe jam 7 atau 8. Normalnya jam 6 sudah banyak yang tutup. Shopping center di city nya udah pada sepi dari jam 6 kurang. Jadi emang ini kota pas banget buat cari kesunyian, cari jati diri gitu kali ya. Bahkan emang pas banget sih landlordnya adek kelasku itu profesinya sebagai novelis sci-fi! Pas banget.
The neighbourhood
Jalanan yang sepi pada umumnya
Di Bath juga unik. Karena bangunannya semua menggunakan batu yang sama, warnanya coklat muda gitu. Kalo gasalah namanya batu Bath? 

Jadi buat teman-teman yang suka kesunyian harus mampir ke Bath. Saya suka banget taman yang di depan Royal Crescent. Tamannya biasa aja sih kayak lapangan rumput gede gitu, tapi karena ada pemandangan Royal Crescent dan Rumah Kotak-kotak nya jadi bagus banget, apalagi pas sunset. Top banget. Karena kotanya sepi dan tenang, kemana-mana jadi merasa aman banget juga. Bahkan kalo nyebrang ga takut ketabrak deh. Tapi saran sih, kalau buat liburan, paling pas itu maksimal 3 hari di Bath karena kalau tidak akan bosan, apalagi buat yang terbiasa tinggal di kota besar dan suka hingar bingar. Tapi kalau saya lagi butuh chanelling my introvert version of mine, cocok banget ke Bath.

Field in front of Royal Crescent
Ducks at The University of Bath
Anglican Daily Mass at Bath Abbey
Bath Abbey Ceiling
Bath Abbey
Queen's Park