Skip to main content

Beautiful Papandayan


Me, Josefhine, Lia, and other friends were planning to hike Mount Papandayan in Garut, West Java. It took sometimes to make it fix. Well, at the end the only four girls (Me, Josefhine, Lia, and Stefhanie)  matched and we guided with one and only natural guide, Edo. In 26-27 August we were making it also for my farewell occasion.

Before I share those beautiful pictures, let me share you our itinerary for 2 days travel (in bahasa): 
Day 1, 26th August 2017

04.30-05.00
kumpul di terminal kampung rambutan

05.00 - 10.00
perjalanan menggunakan bus kurnia bakti menuju bunderan tarogong (garut)
Peserta yang dari garut bisa ketemuan di bunderan tarogong.

10.00 - 11.00
menuju papandayan menggunakan mobil panther/sejenisnya.

11.00 - 12.00
Istirahat, makan siang, briefing.

12.00 - 14.00
pendakian menuju camp goberhut/pondok selada

14.00 - 17.00
eksplore sekitar camp, bisa ke lokasi hutan mati.

17.00 - 19.00
istirahat di camp site

19.00 - 21.00
makan malam dan istirahat.

Day 2, 27th August 2017

04.30-05.00
sarapan ringan

05.00-06.00
menuju hutan mati dan tegal alun. sunrise view point.

06.00 - 07.00
menuju puncak papandayan

07.00 - 08.30
turun kembali ke camp site

08.30 - 11.00
istirahat dan eksplor sekitar camp site

11.00 - 12.00
makan siang di camp site

12.00 - 14.00
perjalanan turun menuju camp david

14.00 - 15.00
istirahat dan perjalanan turun menuju terminal garut menggunakan mobil.

15.00 - 21.00/22.00
perjalanan menuju term. kampung rambutan menggunakan bus



Day 1

Started our Journey at Noon


The Sun is High

Small Amount of vegetations

Crossing Small River

Eating A Bowl of Cuanki at Warung

Camp Gober Hut, It Was Full

Wake Up With This View

All the Campers

We Aim to Get Warmer 
 Day 2 
Sunrise Photo Stocks



The Exotic, Hutan Mati




Edelweiss that Always We Love

My Beautiful Country, Indonesia
Girls on Top
Seems Like The Great Wall?

Pose at Hutan Mati



We Did It! We Were on The Top Of Papandayan, 2622 Mdpl


The End

Cheers,
Finka


Popular posts from this blog

Refleksi di Umur yang ke 26 (reading time: 3-4 minutes)

Tepat seminggu yang lalu, saya baru saja merayakan hari jadi saya yang ke 26. Ulang tahun kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu teman-teman selalu bilang kalau masuk ke umur kepala 2, maka akan mengalami stress parah karena sudah memasuki masa dewasa. Sedangkan sampai tahun lalu, saya masih OK dan tidak ‘terjangkit’ stress yang seperti teman-teman maksudkan.
Nah, barulah sekarang ini saya pahami. Di umur ke 26 ini, banyak pertanyaan dan kerisauan yang ada di benak pikiran saya. Apa saya mengalami ‘telat stress’ atau apalah istilah yang tepat. Mengapa saya bisa mengalami hal ini? Apa yang dapat saya lakukan untuk ‘keluar’ dari lingkaran kegelisahan ini, dan bagaimana caranya?
Akhirnya saya putuskan untuk membaginya dengan pembaca.  
Seperti dihujani meteor, ada 1 pertanyaan besar yang terus lalu lalang dipikiran saya: “Ingin Menjadi Orang Seperti Apakah Saya di Masa Depan?”
Tentunya bukan maksud saya berubah kepribadian menjadi sosok lain, atau bermutasi menjadi…

Celebrating my 2 months in LSE – this is my highlight!

Hi all, 

I write this blog as a reminder for myself about how is it going so far here in London. But if this may benefit you as well, please let me know and I can write more about this! :)





Flashback
I got accepted at LSE, on April 2016. I can recall my feelings when I received the acceptance email from LSE in the middle of executive meeting in my office. Even though the meeting was tough, I can't stop smiling until the end of the day. Still in the same year, on September 2016, I got my desired scholarship from from LPDP (Indonesia Endownment Fund). I aim to get this scholarship from 2014, but just have a chance and courage to try it on 2016. 
I enter this institution (LSE) with the high expectation to improve myself and “consumed” all the knowledge they can offer me as much as possible and as clear as possible.