Skip to main content

Refleksi di Umur yang ke 26 (reading time: 3-4 minutes)


Tepat seminggu yang lalu, saya baru saja merayakan hari jadi saya yang ke 26. Ulang tahun kali ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu teman-teman selalu bilang kalau masuk ke umur kepala 2, maka akan mengalami stress parah karena sudah memasuki masa dewasa. Sedangkan sampai tahun lalu, saya masih OK dan tidak ‘terjangkit’ stress yang seperti teman-teman maksudkan.

Nah, barulah sekarang ini saya pahami. Di umur ke 26 ini, banyak pertanyaan dan kerisauan yang ada di benak pikiran saya. Apa saya mengalami ‘telat stress’ atau apalah istilah yang tepat. Mengapa saya bisa mengalami hal ini? Apa yang dapat saya lakukan untuk ‘keluar’ dari lingkaran kegelisahan ini, dan bagaimana caranya?

Akhirnya saya putuskan untuk membaginya dengan pembaca.  

Seperti dihujani meteor, ada 1 pertanyaan besar yang terus lalu lalang dipikiran saya: “Ingin Menjadi Orang Seperti Apakah Saya di Masa Depan?”

Tentunya bukan maksud saya berubah kepribadian menjadi sosok lain, atau bermutasi menjadi makhluk lain. Tapi lebih ke apa profesi saya di masa mendatang, apa kesan mendalam yang orang dapatkan ketika mengobrol panjang dengan saya, atau Ibu seperti apa saya di pikiran anak-anak saya kelak?

Lalu pertanyaan besar itu diikuti dengan bertubi-tubi pertanyaan kecil seperti:
Apa passion saya sebenarnya? Apakah saya sudah memaksimalkan potensi diri saya? Apakah saya sudah melakukan hal yang benar? Apa saya menyia-nyiakan masa muda saya? Apa yang harus saya rubah dari diri saya? Apakah saya anak yang baik? Apakah saya kakak yang baik? Apakah saya sudah menemukan pasangan yang tepat? Dampak apa yang sudah saya berikan selama ini? Apa pencapaian saya selama ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain menyangkut diri sebagai pribadi manusia.

Dalam merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu saya merasa kelelahan karena selain pertanyaannya banyak, membuat saya sampai sakit kepala dan bahkan tidak bisa tidur di malam-malam tertentu.

Saya mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan cara berefleksi di waktu perjalanan dari rumah ke kantor, membaca, berdiskusi dengan orangtua dan sahabat di waktu senggang. Tapi yang utama, ya dari refleksi dan berdialog dengan diri sendiri di waktu sebelum tidur.


Setelah mencari tahu, mungkin rumpun ilmu psikologi bisa membantu menjawab. Menurut pakar psikologi Seth Schwartz Ph.D., mengapa banyak orang muda (18-25 tahun) yang terjebak dalam masa transisi dalam kehidupan adalah karena kombinasi dari faktor seperti perubahan norma sosial, perubahan kondisi ekonomi, dan kemajuan teknologi.

Ada juga riset dari psikologist Jeffrey Jensen Arnett, PhD yang menemukan bahwa ada perasaan berada ditengah-tengah (feeling in between) pada manusia di usia 18-29 tahun. Mereka yang merasa sudah bukan remaja dan mulai merasa bahwa bertanggung jawab penuh dengan diri mereka sendiri, tetapi masih tidak terpisahkan dengan orangtua dan keluarga mereka. Mereka cenderung merenungkan identitas pribadi, yang menurut Arnett sebetulnya sudah harus selesai dimasa remaja. Kemudian Arnett menamakan masa ini adalah “emerging adulthood” atau dewasa baru. Di masa ini, dewasa baru identik dengan :


           -    Masa-masa mengeksplorasi identitas (mencari dan menentukan identitas diri).
-    Masa-masa tidak stabil (Berpindah-pindah tempat, lanjut pendidikan, bekerja atau menikah, dll).
-   Masa-masa fokus akan diri sendiri (mencoba mengatur dan menentukan masa depan sendiri)
-    Masa-masa merasa ‘terjepit ditengah’ (sudah harus memikul tanggung jawab, tapi masih bertanggung jawab pada orang tua).
-  Masa-masa terciptanya kemungkinan/ kesempatan (Rasa optimisme terbentuk, ingin bisa melebihi pencapaian orang tua).  


Dan yang menarik, Arnett mengatakan bahwa apabila kebahagian diartikan sebagai
perbedaan dari apa yang didapatkan dari apa yang diinginkan/ impikan, maka
kebanyakan dewasa baru ini akan kecewa karena mereka mengharapkan terlalu
banyak. Hahaha. Yang ini sangat mengena sih. Banyak sekali kemauan/impian dll
tapi yang terealisasi hanya sekitar 25-40%?

Jika saya melihat surat-surat resolusi saya setiap tahun, pencapaian tertinggi ya paling sekitar 40% dari keinginan atau wishes yang saya tuliskan, hahaha jadi malu.
  
Faktor kesuksesan transformasi ini terletak pada keseimbangan antara tekad si remaja dalam memperjuangkan perkembangannya serta orangtua dan lingkungan yang memberikan dukungan tetapi tidak memaksa atau membebani terlalu banyak.

Dari pemaparan psikologi tersebut, saya jadi paham bahwa kita memang sedang berada ‘ditengah-tengah’ menuju masa dewasa. Banyak perubahan yang terjadi. Hampir semuanya mengena di diri saya. Masa mengeksplorasi identitas – saya mau bekerja seperti apa, dimana, dll; ingin berfokus pada diri sendiri dan tidak diganggu dengan tuntutan lain-lain; merasa sudah dewasa tetapi masih tinggal dengan orang tua dan harus mengikuti aturan rumah; dan optimisme akan masa depan.

Akhirnya, dari perenungan selama kurang lebih 2 minggu lamanya, ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan:
1.     Saya tidak mau terjebak dalam rutinitas pekerjaan kantoran
2.     Saya mau lebih banyak membaca buku
3.     Saya ingin terjun langsung ke dalam gerakan di komunitas
4.     Saya ingin lebih banyak diskusi dengan teman yang bidangnya sama
5.     Saya harus ‘all out’ selama saya masih muda dan enerjik
6.     Saya harus terus mengasah dan melatih bakat saya
7.     Saya tidak boleh bergantung pada orang lain

Dari kesimpulan yang saya curahkan, tentunya saya harus mengambil tindakan supaya kesimpulan tersebut tidak menjadi sia-sia. Salah satunya dengan menulis blog ini. Dengan menulis, saya berharap saya bisa mencurahkan pikiran dan suara hati dan juga mendapat masukan dari pembaca-pembaca lainnya yang mungkin memiliki pengalaman yang sama dengan saya.

Jadi, apakah ada yang punya pengalaman yang sama?


Jakarta, 28 April 2017.