Skip to main content

Finka's Project #11: Lele Food


Memberdayakan suatu desa dengan peternakan ikan lele adalah hal yang unik, apalagi bila dijalankan oleh seorang mahasiswi suatu universitas swasta yang notabene memiliki segudang pilihan kegiatan serta didukung dengan fasilitas memadai yang siap untuk dimanfaatkan. Disaat teman-temannya sibuk nongkrong sana-sini,  Gloria Marcella Morgen Wiria dan tim malah asyik keluar masuk desa menengok kolam-kolam lele yang ada di desa Cimenyan, Bandung.

Gloria & Team bersama dengan Ibu-ibu Desa Cimenyan

Gloria adalah alumni Universitas Parahyangan, program studi Teknik Kimia angkatan 2009. Ketertarikannya dalam dunia social entrepreneurship tumbuh dari niat yang mulia, yaitu ingin memberi untuk orang lain. Berawal dari niat, Gloria memulai langkah pertamanya dengan berpartisipasi dalam perlombaan business plan dari salah satu perusahaan swasta. Ternyata, kegigihannya membuahkan hasil. Ia dan timnya maju menjadi peringkat terdepan dan mendapat bantuan untuk merealisasikan rencana bisnisnya. Bagaimana cerita lengkapnya? Simak wawancara berikut antara saya (F) dan Gloria (G) ini mengenai Lele Food atau yang lebih terkenal dengan produknya, ALECI!

Hi Gloria, thank you for your participation in this interview! It’s been a while that we have planned you to be one of our special appearance in the blog. Aku ada beberapa pertanyaan ini mengenai bisnis kamu yaitu Lele Food.

Gloria: Sure, Finka.

F              : Glo, Apa itu Lele Food? Apa latar belakangnya? Siapa saja yang berkecimpung dalam bisnis ini?

G             : Lele Food itu sosial bisnis yang memberdayakan ibu-ibu kurang mampu yang ada di Desa Cimenyan, Bandung. Jadi, kami memberikan pekerjaan bagi mereka berupa pengolahan ikan lele menjadi abon, nugget, kerupuk, dorokdok dan pecel lele. Setelah itu, kami bantu pasarkan produknya.
Buat yang ingin tahu Lele Food, bisa buka link berikut https://www.youtube.com/watch?v=a1DXcnRWJ6A&feature=youtu.beFollow ig : @lelefood

Awalnya, keinginan membantu orang desa, datang dari kejenuhan dan keinginan dari saya yang ingin mencari definisi kebahagiaan. Maklum, saat itu, tahun 2012, saya masih duduk di bangku kuliah, saya kuliah di jurusan yang tidak sesuai passion. Rasanya bosan, jenuh dengan kehidupan kuliah yang monoton dan berasa tidak menjadi diri sendiri. Singkat cerita, melalui pencarian dari buku, seminar dan bertanya-tanya kepada orang-orang, saya menemukan definisi kebahagiaan versi saya sendiri yaitu “Bahagia itu, pada saat kita mampu memberi kepada orang lain”.

Pas bangeeet, Bulan Oktober 2012, sedang digelar lomba Danone Young Social Entrepreneur. Jika berhasil memenangkan lomba ini, maka saya akan mendapatkan dana untuk merealisasikan impian saya untuk menolong orang-orang desa. Dengan segera, saya membentuk tim dan bersama-sama, kami berjuang untuk membuat impian ini menjadi nyata. Akhirnya Bulan Februari 2013, kami dinyatakan menang dan berhasil mendapatkan dana untuk membantu warga Desa Cimenyan.

Tim inti Lele Food saat ini ada empat orang, saya sendiri, Gloria di posisi CEO, Frebriansyah Hermawan sebagai Director Marketing, Herlina Alam sebagai Director Product Development dan Elizabeth Tjahjadi sebagai Director Finance.

F              : Kenapa pilih Lele? Kenapa pilih Cimenyan?

G             : Kandungan Nutrisi ikan lele itu setara dengan daging sapi, sedangkan dari segi haga, ikan lele jauh lebih terjangkau dari pada daging sapi. Maka kita ingin, orang-orang yang kurang mampu, tetap dapat memenuhi asupan nutrisinya dengan mengkonsumsi dagin ikan lele yang harganya terjangkau.
Desa Cimenyan ini lokasinya dekat dengan Universitas Katolik Parahyangan, kampus saya dulu. Selain itu, beberapa warganya ada yang pernah budidaya ikan lele. Jadi untuk ekspansi ke depan pun, jadi sangat memungkinkan kalau kami membuat usaha budidaya dan pengolahan ikan lele sekaligus.
Ibu-ibu sedang mengolah ikan Lele

F              : Sudah berapa lama menjalankan bisnis ini?

G             : Konsep sosial bisnis ini disusun sejak 28 Oktober 2012, mulai direalisasikan Juni 2013.

F              : Apa ada tantangan external maupun internal pada saat kamu menjalankan bisnis ini?

G             : Tantangan external, palinggg, soal jarak ya. Jakarta-Bandung. Tim kita jadi terbagi dua, ada yang di Jakarta, ada yang di Bandung. Tapi sejauh ini masih bisa teratasi dengan line atau whatsapp, yang penting adalah komitmen.
Masalah internal, lebih ke memotivasi ibu-ibu Desa untuk rutin produksi. Terkadang, ada begitu banyak alasan bagi mereka untuk tidak produksi. Di sini, kita satu tim jadi tahu kapan harus “push” dan “pull”.

F              : Apa cita-cita terbesar Lele Food? Apa yang membuat kamu tetap semangat buat bikin bisnis ini berhasil?

G             : Kami dapat memberdayakan satu Desa Cimenyan, seluruh warganya boleh terbantukan melalui program Lele Food, sehingga perekonomian mereka menjadi lebih baik.

F              : Apa sih mimpi kamu dengan Lele Food 5 tahun kedepan?

G             : Produk-produk Lele Food bisa masuk ke Carefour, Indomaret, Alfamart, Toko oleh-oleh di seluruh Indonesia.
ALECI, produk kebanggaan Lele Food
F              : Wow, luar biasa. Prestasi apa saja yang sudah diraih oleh kamu dan teman-teman sebagai founder?

G             : Berikut adalah presetasi-prestasi yang pernah saya capai:
·         Inspirational Young Leaders in Indonesia by UNFPA 2015
·        As an International Youth Peace Ambassador by Eubios Ethics Institute and International Peace and Development Ethics Centre (IPDCE) 2015
·         Top 15 National Wirausaha Sosial Mandiri in Agricultural and Marine Category by Mandiri Bank 2015
·         First Rank of Social Entrepreneurship Project National Essay Competition by AIESEC UI 2013
·         Danone Ambassador in Parahyangan Catholic University 2013
·         Fifth Rank of Social Business Competition by Danone (Danone Young Social Entrepreneur) 2013
·         Kegiatan kami diliput oleh Metro TV “8-11”, Tabloid Genie, Pikiran Rakyat News Paper, Bandung Express News Paper, Kartini Online, Radar Online, Inilah Koran Online, Fokal.Info, etc.
·         Diundang untuk sharing tentang sosial bisnis di Alumni’s Talk Universitas Katolik Parahyangan 2015, International Conference SEALS 2014, Sociopreneur Expo 2014, National Future Educator Conference 2014, Gusdurian Seminar 2014, AkberJKT 2013

F              : Bagaimana strategi pemasaran yang kamu jalankan?

G             : Untuk penjualan ALECI, kami jual secara online, buka stand di poop up market, jualan di car free day, sistem konsinyasi dan reseller.

F              : Berapa ALECI yang sudah kamu produksi? Berapa omzetnya? (rata-rata per bulan)

G             : Rata-rata kita produksi 800-1000 bungkus ALECI dalam satu bulannya. Omsetnya 20.000.000.

F              : Bocoran dong tentang inovasi terbaru yang akan diluncurkan dan kapan hehehe.

G             : Kita mau ganti packaging dan akan menambah jenis rasa ALECI, pastinya tahun ini J
Tungguin yaa infonya.

F              : Pastii! Kesan apa yang kamu dapat tentang menjadi seorang entrepreneur? Gimana pandanganmu untuk prospek social entrepreneurship/ environmental entrepreneurship di Indonesia?

G             : Kalau kita kerja di tempat orang, hidup kita bergantung pada orang lain. Kalau tiba-tiba perusahaan ada perampingan, divisi kita ditutup, kita di PHK, kita gak punya penghasilan lagi. Tapi kalau menjadi entrepreneur, keberlangsungan, keberhasilan atau kegagalannya kamu yang tentukan sendiri.
Dengan menjadi entrepreneur, kamu bisa membuka bisnis yang mungkin belum pernah ada jenisnya atau selama ini hanya dianggap bualan semata oleh banyak orang. Entrepreneur, dapat membuat yang tidak ada menjadi ada. Keren!

Kedepannya, social entrepreneurship akan semakin berkembang di Indonesia. Kegiatan-kegiatan sosial akan beralih menjadi social entrepreneurship demi keberlangsungannya, sehingga tidak semata-mata bergantung dengan sponsor ataupun CSR perusahaan. Para pebisnis akan mulai menjalankan social entrepreneurship sebagai strategi bisnis mereka karena masyarakat cenderung peduli dengan hal-hal berbau sosial.

Perusahaan-perusahaan akan berusaha menarik simpati masyarakat, dengan bekerjasama dengan para social entrepreneur ataupun mendanai project-project tertentu untuk melahirkan social entrepreneur baru.

F              : Apa quotes favoritmu? Siapa Idolamu?

G             : “Nothing can dim the light that shines from within” –Maya Angelou.
Idola saya adalah Chairul Tanjung, Sandiaga Uno, Bong Chandra, Handry Satriago, Dwi Lestari Pramesti, Gilbert Lumoindong.

F              : Pesan kamu buat Readers yang mau jadi entrepreneur!

G         : Don’t let a fear of being “too young” or even “too old” stop you. It’s important to remember that age doesn’t matter-it’s only a number. Never let people tell you that you can’t do something. Just let it go, keep passionate and never give up. You can live your dream.

Wah, keren banget ya Gloria. Masih muda, sudah bisa berkarya sedemikian rupa. Ayo teman-teman para Readers and entrepreneurs, tetap semangat dalam meraih mimpimu ya!

About her…


1
Nama Lengkap: Gloria Marcella Morgen Wiria.
2
Profesi: Founder dan CEO Glow for Indonesia, CEO Lele Food, CEO Sharing with You, CEO Inspiring Indonesia, Founder Parahyangan Green Challenge, Director Strategic De Expor
3
Cita-cita: Memiliki kebebasan finansial di usia saya yang ke-25 (10 November 2016)
4
Hal unik dari diri kamu: Ceria, selalu positif, curious person, persistance, selalu aktif untuk berkarya, berprestasi dan berkontribusi. Hobby: Membaca, menulis, sharing.
5
Website: glowforindonesia.org.com, Instagram: @lelefood